Pengertian Stunting Menurut WHO dan Rembuk Stunting
29/11/2019 Comments Off on Pengertian Stunting Menurut WHO dan Rembuk Stunting Dunia Pendidikan, Uncategorized admin

Mungkin tidak semua orang mengenal istilah stunting.
Menurut WHO atau Badan Kesehatan Dunia, Indonesia ada di urutan ke-5 dengan jumlah anak dengan kondisi stunting.
Stunting artinya adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

Salah satu wilayah di Indonesia yang angka stuntingnya tertinggi adalah Kabupaten OKI, Ogan Komering ilir.

Angka stunting Kab. Ogan Komering Ilir (OKI) menurut Riskesdas mencapai 40,5% atau hampir setengah balita di OKI mengalami stunting.
Bahkan, angka ini di atas angka stunting Nasional 37%.

Menurut WHO, di seluruh dunia diperkirakan ada 178 juta anak di bawah usia lima tahun yang pertumbuhannya terhambat karena stunting.
Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang kurang maksimal, yang kemudian menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Stunting dan kondisi lain berkaitan dengan kekurangan gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor resiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Penyebab Stunting Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam waktu jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:

1. Kurang gizi kronik dalam masa atau waktu yang lama
2. Retardasi pertumbuhan intra uterine
3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
5. Sering menderita infeksi pada awal kehidupan seorang anak.
Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai.
Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi pada masa lalu seseorang.

Gejala Stunting

1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
3. Berat badan rendah untuk anak se-usianya
4. Pertumbuhan tulang tertunda (Mencegah Stunting). Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan.

Stunting pada awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional fisik tubuh ketika dewasa.

Untuk mengatasi masalah stunting ini Kementerian Kesehatan dengan dukungan Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-I), melalui Program Hibah Compact Millennium Challenge Corporation (MCC) melakukan Kampanye Gizi Nasional Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM).

Salah satu intervensi dalam program PKGM adalah tentang perubahan prilaku masyarakat, yang dilakukan dalam program Kampanye Gizi Nasional (KGN).

Program KGN di wilayah OKI dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh, seperti melakukan aktifasi posyandu-posyandu dan pemberian pengetahuan tentang gizi anak, mulai dari makanan apa saja yang boleh untuk bayi di atas enam bulan, bagaimana tekstur yang baik, berapa banyak yang harus diberikan, termasuk pengetahuan pentingnya ASI eksklusif.

Yang menariknya tim posyandu mengadakan door prize untuk menarik minat dan perhatian para ibu untuk hadir mendengarkan penyuluhan di posyandu.

“Setelah penyuluhan, kami lempar pertanyaan. Mau enggak mau mereka harus dengerin, biar bisa jawab. Hadiahnya enggak mahal, kebutuhan rumah tangga sehari-hari saja. Tapi, ini sudah membuat mereka semangat datang,” jelas Hera Wiyana, seorang fasilitator di posyandu desa Sugih Waras, Ogan Komering Ilir.

Hera menambahkan, para bidan dan fasilitator biasanya punya catatan siapa saja yang rajin hadir dan bahkan yang tak pernah hadir ke posyandu.
Kalau memang ada yang tak pernah hadir, bidan atau fasilitator tak segan datang langsung ke rumahnya untuk memberikan penyuluhan.

“Ada banyak faktor, misalnya saja jarak yang jauh membuat mereka malas datang ke posyandu.

Tapi, kan kita tetap bertanggung jawab memberi penyuluhan kesehatan. Jadi, ya kita datangi.”

Selain itu, para ibu hamil tak hanya diwajibkan memeriksakan diri secara berkala dan diberi tablet penambah darah. Tapi juga diberikan penyuluhan melalui kelas pendukung ibu.

Tujuannya, agar ibu mengetahui perkembangan kehamilannya dan bisa lebih menjaga kondisi kehamilannya.

Pasalnya, stunting sangat dipengaruhi oleh 1000 hari pertama kehidupan, dimulai dari dalam kandungan. “Kalau ibunya sehat, janinnya juga sehat.
Jadi, kita kasih tahu apa saja yang harus dilakukan selama kehamilan.

Makanan apa yang baik dikonsumsi. Jangan sampai ibu hamil kurang gizi, kan bisa memengaruhi janinnya juga,” ujar Hera.

Tags
About The Author