Tangisan Hati Seorang Suami Istri Durhaka

Tangisan Hati Seorang Suami Istri Durhaka

Catatan Hati Seorang Suami Istri Durhaka
Betapa pedih dan sedihnyanya seorang suami, tatkala mendengar anaknya menangis …
Beratnya Tugas seorang suami dia tanggung
Tapi Istri tidak pernah dengar kata dan menghargai segala pengorbanannya

Yang ada dibenaknya cuma harta, dan dunia
tak peduli malapetaka rumah tangga melanda
bahkan dia pernah dicerai, dia menghiba meminta
suaminya tidak tega, tapi kembali seperti sedia kala

Inilah dilema suami istri orang bekerja
Suami hanya seorang wiraswasta bukanlah pengusaha
Dalam keadaan terkurung di rumah suami harus membanting tulang hidupnya
supaya dapat menurup mulut rakus nan menganga
hanya dunia dan harta yang diinginkannya

Oh Tuhan tolong bantu mudahkan segala
Kalau bukan karna anak dan tugasnya tentu sudah tiada bersama lagi
dengan wanita yang terlaluan kejam dan cinta dunianya

Ketika hendak memulai tulisan ini, tiba-tiba teringat dalam benakku wajah seorang yang sangat akrab denganku, sebuah wajah yang begitu tulus namun dipenuhi dilema dalam kehidupan rumah tangganya. Wajah seorang lelaki muda, lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, terutama anak-anaknya.

Sanggup tinggal menunggu rumah demi anak-anaknya yang ditinggalkan isterinya yang bekerja. Dia sendiri bekerja sebagai freelance yang cukup besar gajinya. Cukup untuk menafkahi memberi makan keluarga, namun karena isterinya bekerja dan merasa mencari maka kurang menghargai suaminya.

Padahal kalau ditinggalkan rumah dan anak-anaknya tidak akan sanggup ia mengurusnya walau dalam sehari saja.

Setiap hari sering kudengar pertengkaran mulut terus, sampai ke teriakan dan pekikan kemarahannya pada istrinya yang tidak pernah menghargainya apalagi mendengar kata-katanya.

Entah mengapa, aku begitu ingin menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya.

Mungkin orang akan bertanya-tanya untuk apa aku menceritakan kehidupan rumah tangga orang. Bukan menceritakan aibnya, kan tidak disebutkan namanya, dan sebagai pelajaran semata. Semoga ini bukan aib, karena kan tidak tau siapa orangnya dan ini hanya sebagai pelajaran saja.

Aku bukan hendak membuka aib tamanku sendiri, bukan. Tapi aku hanya ingin berbagi kisah tentang apa yang sering dikeluhkan olehnya.

Awal pertemuan hingga akhirnya menikah
Teman akrabku ini adalah lelaki yang hidupnya besar di perantauan. Ketika menikah dia dipertemukan di jodohkan oleh ayah angkatnya yang selama ini merawatnya.

Bukannya tidak setuju, atau tidak tahu terima kasih atau kecewa, dia cuma tidak habis fikir menghadapi istrinya. Tidak tahu gimana caranya mendidik istri yang kebangetan durhakanya.
Setiap pagi dia berangkat kerja, tidak peduli akan anak yang menangis, tidak tau memandikan atau mana ada memberi makannya.

Saat pulang dia langsung saja tidur, sampai malam. Demikian setiap harinya. Kapan ada waktu untuk keluarganya. Tidak ada usaha untuk memperbaikinya.

Pabila ia memasak nasi, sehari sekali. Hampir dipasikan hangus atau lembek bak bubur saja. Sering kali basi, dia hidang juga. Sudah berjuta kali ditegur, tapi macam tak didengarnya, tak ada gunanya.

Tak peduli dengan keadaan rumah berantakan, mana ada mengurus rumah, mencuci piring dan pakaian malas-malas saja seminggu sekali bahkan sebulan lamanya. Sang suami pula karna merasa tak dihargai, dia bekerja dia membantunya kecuali yang darurat-darurat saja.

Ia pun bekerja di rumahnya sebagai freelance. Walaupun besar hasilnya, tapi kadang ada kadang tidak. Sekedar cukup makan saja.

Namun kegigihannya menjadikannya terus berusaha di samping pekerjaannya sebagai kuli/buruh biasa di beberapa tempat, dalam dan luar kota.

Aku biasa memanggilnya dengan da Ujang, Da Ujang sudah lama meninggalkan orang tua di kampung halamannya, sampai meninggal ayahnya dia tidak mengetahuinya. Sekarang tinggal ibunya lagi yang masih ada.

Itupun jarang mengirimkan uang atau apa-apa ke kampungnya, karena susahnya.

Memang ada adik-adik di kampung yang merawat ibunya, tapi siapa yang tidak ingin berbakti kepada orang tua dan pulang ke kampungnya.

Sayangnya jauh jarak jadi belaka. Da Ujang pernah kuliah, tapi tidak lulus karena alasan biaya dan kerja kerasnya sendiri.

Ketika memasuki dunia kerja setelah dia lulus kuliah, Da Ujang pun mendapatkan posisi yang baik dan sempat berpindah-pindah kerja dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain.

Hingga akhirnya ketika Da Ujang bekerja di sebuah perusahaan di daerah Jakarta Timur. Kemudian Da Ujang kemudian pergi ke Pekanbaru. Bertemu dan berkenalan dengan seorang perempuan sampai menikahnya di Gunung Rendah dan tinggal di Kota A.

Setelah berjalan beberapa waktu, hubungan mereka terlihat menjadi lebih akrab dari yang lainnya. Hingga akhirnya kedekatan mereka akan dikukuhkan dalam sebuah ikatan tali perkawinan.
Uni Upiak namanya begitu biasa aku memanggilnya, sebentar lagi akan menjadi istri Da Ujang.

Hari bahagia itu pun datang, dengan menggunakan adat dari salah satu suku di pulau Sumatera, pernikahan itu berlangsung.

Pesta yang cukup sederhana dibuat, karena dari kedua belah pihak keluarga, ini adalah pernikahan pertama. Uni Upik melangkahi kakak lelakinya, mendahului menikah. Setah menikah, Da Ujang dan Uni Upik tinggal bersama keluarga Uni Upik. Hingga akhirnya Uni Upik hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan mungil lucu. Di sinilah semuanya malapetaka itu bermula.

Ikut Campur dari Mertua

Bukan senang mengurus anak bayi, terutama bagi seorang laki-laki, apalagi ini seorang yang suka berpetualang. Sukanya bepergian.

Hingga akhirnya Da ujang pernah memnceraikan istrinya dan sudah pergi meninggalkan anak isterinya. Karna permintaan mantan istrinya, kasihan dengan anak bini maka rujuk lagi

Cuma ikut campur mertua sungguh terlalu, semua didikte.
Mungkin keluarga mertuanya belum terbiasa mendengar tangisan seorang bayi ditengah malam, terutama almarhum bapakku setelah anak-anaknya beranjak besar.

Entah mengapa malam itu keponakan kecilku menangis terus sepanjang malam tanpa henti, dan seisi rumah panik dengan keadaan itu, takut terjadi apa-apa.

Lama keponakan kecilku itu tak juga diam, tiba-tiba almarhum bapak marah. Mungkin karena terganggu dengan suara tangisan bayi ditengah tidur malamnya.

“Suruh diam kenapa sih, kalo nggak mau diam juga bawa aja pulang sana” hardik bapak ditengah kantuknya.

Uni Upik merasa tersinggung, dan keesokan paginya Uni Upik minta pada Da Ujang untuk diantar pulang kerumah orang tuanya. Dengan berat hati Da Ujang mengantarkan anak dan istrinya kerumah orang tuanya, dan mulai saat itu Uni Upik merasa bahwa dirinya dimusuhi oleh keluarga mertuanya.

Uni Upik mulai menjaga jarak dengan keluarga mertuanya, enggan ikut berkumpul ketika keluarga mertuanya mengadakan acara.

Ada banyak alasan yang dikatakannya untuk menghindari pertemuan tersebut.
Da Ujang pun kerap kali membujuknya untuk ikut, tapi Uni Upik tetap menolak. Pernah pada suatu saat ketika hari raya Iedul fitri, Uni Upik terpaksa datang kerumahku. Uni Upik hanya diam, tidak akan berbicara jika tidak ditanya.

Dan ketika diajak bersalaman pun, dia hanya sekedar menempelkan ujung jarinya tanpa pernah mau menggenggam erat tangan yang mengajaknya bersalaman.

Tiba-tiba saja pada hari yang sama aku menemui Uni Upik sedang berselisih dengan adikku, entah apa pemicunya. Ka Ujang hanya diam sambil menahan malu dan emosi, terlihat sekali dari raut wajahnya.

Dengan adiku, dengan kakak perempuanku juga dengan ibuku yang notabene adalah ibu mertuanya Uni Upik berseteru, tapi tidak dengan aku. Mungkin karena aku adalah orang yang tidak telalu perduli dengan sikap Uni Upik yang seperti itu.

Aku masih bertoleransi dengan sikapnya walaupun mungkin hanya sedikit. Aku tetap mengajaknya berbicara, membelikan hadiah ketika keponakanku berulang tahun atau apapun itu.

Curhat pada ibu

Suatu ketika, aku pernah memergoki Ka Ujang bercerita kepada ibu. Mengenai kelakuan Uni Upik yang semakin menjadi-jadi terhadap keluarga mertuanya. Hingga sempat terlontar dari mulut Ka Ujang bahwa dia ingin bercerai dengan Uni Upik

“Upik tuh udah nggak bisa dibilangin bu, ndablek, keras kepala, mau menang sendiri. Dengan Dharma ribut, dengan Wiwi ribut, dengan ibu kelakuannya seperti itu. Ibu tau sendiri kan?” Kata Ka Ujang dengan nada yang sedikit emosi.

“Lalu apa mau kamu le?” kata ibu pada Ka Ujang

“ Aku mau cerai saja kalo begini, nggak tahan bu” kata Ka Ujang lagi

“Apa kamu sudah fikirkan apa akibatnya jika kamu bercerai?” tanya ibu lagi

“Ah soal itu bisa difikirkan nanti” kata Ka Ujang memberi alasan.

Ibu hanya diam mendengarkan alasan Ka Ujang. Aku tahu apa yang sebenarnya terbersit dalam hati ibu, antara senang dan sedih. Ya ibu memang kerap kudapati dalam keadaan sedih setelah melihat kelakuan Uni Upik.

Tentu saja aku terkejut mendengar pembicaraan antara ibu dan Ka Ujang. Sebegitu kuat kah keinginan Ka Ujang bercerai dari Uni Upik? Sudah separah itukah hingga hubungannya sudah tidak dapat lagi diperbaiki?

Aku hanya mampu bertanya-tanya dalam hati, dan tentu saja aku sedih melihatnya jika hal itu sampai terjadi. Tanpa bermaksud apa-apa pada Da Ujang, aku menemui Ka Ujang yang saat itu sedang duduk diteras rumah.

Aku mencoba bertanya dengan hati-hati apa yang sesungguhnya terjadi dengan rumah tangganya. Disinilah aku mendengar langsung Da Ujang bercerita tentang sikap Uni Upik kepada ibu dan adik-adiknya termasuk aku.

Perceraian adalah sesuatu yang halal tapi dibenci Allah
Pelan-pelan aku berkata pada Da Ujang “Maaf ya mas kalau aku tadi nguping pembicaraan mas dengan ibu. Aku cuma ingin tau apakah keputusan Da Ujang bercerai dengan Uni Upik sudah mas fikirkan masak-masak? Apakah mas juga sudah memikirkan dampak yang akan terjadi? Inget loh mas, Da Ujang udah punya Anak”.

Da Ujang terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Kamu kan tau sendiri Na gimana kelakuan Upik sama kalian semua.

Jujur aku malu, dikiranya aku sebagai suami tidak bisa mendidik dan memberi contoh yang baik pada istri. Padahal tidak begitu kenyataannya, aku sudah berusaha keras untuk mendidik dan memberi contoh yang baik, tapi hasilnya nol besar. Aku bukan teladan yang baik buat adik-adikku, terutama buat kamu Na”.

Aku tercekat mendengar jawaban Da Ujang. Tanpa bermaksud menggurui, aku mencoba mengemukakan pendapatku soal perceraian “ Aku tau mas begitu kesal dengan kelakuannya Uni Upik, mas merasa gagal menjadi suami yang baik.

Tapi alangkah baiknya jika mas mengambil keputusan tidak berdasarkan emosi semata, semuanya tidak bisa berubah semudah kita membalikkan telapak tangan. Mas harus sabar menghadapainya perlu waktu untuk mengubah semuanya dan yang harus Ka Ujang tau Allah itu membenci perceraian loh walaupun itu dihalalkan”.

Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, tapi aku tahu dari raut wajahnya Ka Ujang menyembunyikan sesuatu. Entah sedang memikirkan apa yang baru saja aku katakan atau memikirkan yang lain. Sampai akhirnya hari mulai larut dan Ka Ujang pamit kepada ibu untuk pulang.

“Bu aku pulang dulu ya, doain mudah-mudahan nggak ada apa-apa dengan aku” kata Ka Ujang berpamitan pada ibu.

“Hati-hati dijalan le” kata ibu

“Na aku pulang dulu, makasih ya” kata Ka Ujang kepadaku

“Hati-hati dijalan mas, salam buat semuanya ya” jawabku.

Aku mengantar kepergian Ka Ujang. Dari depan pintu pagar kupandangi tubuhnya berjalan menuju kejalan raya untuk menaiki angkot menuju stasiun. Aku merasa Ka Ujang seperti sedang menanggung beban yang begitu berat.

Tak Juga berubah

Aku sungguh tak mengerti dengan jalan fikiran Uni Upik. Ternyata Uni Upik tak Juga merubah sikapnya terhadap kami semua. Tapi rasa-rasanya adik dan kakak perempuanku sudah tidak lagi perduli dengan sikap Uni Upik.
Kami akan tetap memberitahukan pada Uni Upik jika kami mengadakan acara, meskipun kami yakin Uni Upik tentunya tidak akan hadir dengan sejuta alasannya itu. Sebagai adik yang begitu dekat dengan Ka Ujang, aku sangat merasakan kegalauan hatinya.
Apalagi ketika Ka Ujang melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sudah dilakukan Uni Upik terhadap keluarga mertuanya.

Entah mengapa sikap Uni Upik begitu keras. Aku merasa bahwa Uni Upik itu menjadi orang yang sangat pendendam. Sepertinya kesalahan sekecil apapun akan selalu diingat sepanjang hidupnya, dan itu berlangsung hingga kini Sasa keponakanku itu beranjak remaja. Kalaupun ada sikap Uni Upik yang berubah, itu pun hanya mau berbicara lebih banyak dari pada biasanya.

Yang patut aku syukuri dari semua kejadian ini, Ka Ujang tidak benar-benar merealisasikan keinginannya bercerai dari Uni Upik. Ka Ujang masih berusaha dan terus berusaha memperbaiki keadaan, meskipun tanpa ada sebuah kepastian kapan semuanya menjadi baik. Ka Ujang hanya memikirkan bagaimana dengan anak-anaknya yang sudah beranjak besar jika mereka bercerai, apakah tidak akan menjadi bahan ejekan dari kawan-kawannya. Tapi aku yakin, suatu saat nanti dengan disertai doa dari kami semua keadaan itu akan berubah menjadi seperti sedia kala.

Leave a comment