Legenda Pulau Mursala dan Putri Runduk dari Kerajaan Barus Raya

Masih ingatkah kita sebuah film yang berjudul “MURSALA” yang dibintangi oleh Rio Dewanto dan Titi Rajo Bintang yang pernah menuai kontroversi, karena kisah dalam film itu sangat tidak sesuai dengan apa yang pernah beredar di tengah-tengah masyarakat Pesisir Sibolga, Barus, Sorkam dan sekitarnya? Nah, untuk lebih tau apa dan bagaimana sebenarnya Pulau Mursala tersebut, berikut kisahnya:

Pulau Mursala atau Mansalaar Island merupakan pulau terbesar yang dimiliki Kabupaten Tapanuli Tengah, terletak di sebelah barat daya kota Sibolga dan masuk dalam wilayah Kecamatan Tapian Nauli. Pulau ini berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Nias.

Luas Pulau Mursala sekitar 8.000 ha dan dapat ditempuh selama 1 jam menggunakan kapal cepat dari Sibolga. Pulau ini dihuni sekitar 60-an KK, dan dikitari belasan pulau-pulau kecil yang kebanyakan tidak berpenghuni.  Air terjun Pulau Mursala terkenal sebagai salah satu dari sedikit air terjun di dunia yang langsung terjun ke laut. Beberapa di antaranya adalah Kilt Rock Waterfall di Skotlandia, Falls Sounds Milford di Fjords Selandia Baru, dan Jeongbang di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Di sekitar Pulau Mursala juga terdapat pulau-pulau lain yang juga mempesona, di antaranya Pulau Puti, Pulau Silabu Na Godang, Pulau Kalimantung Na Menek, Pulau Jambe, dan masih banyak pulau yang lainnya. Pulau-pulau tersebut juga memiliki keindahan yang tak kalah dari Pulau Mursala. Laguna dengan pantai pasir putih yang menyatu antara Pulau Silabu Na Godang dengan Pulau Kalimantung Na Menek, serta perairan dangkal dengan aneka terumbu karang dan ikan hias yang indah di sekitar Pulau Jambe.

 Air terjun Pulau Mursala rasanya tawar. Nah, ada yang misterius soal asal muasal sumber air terjun ini. Sebagian warga setempat menduga, sumber airnya berasal dari Danau Toba, yang mengalir lewat bawah tanah. Konon, terkadang ditemukan jerami di aliran air terjun saat musim panen padi di kawasan danau Toba. Tapi ada juga yang menyebut, airnya berasal dari sebuah sungai yang membelah Pulau Mursala. Mana yang benar? Belum ada penelitian yang membuktikannya.

Keunikan lain yang dimiliki air terjun pulau mursala ini adalah bahwa air terjun ini berasal dari aliran sungai terpendek didunia.  Memiliki lebar 400 meter dengan panjang hanya sekitar 700 meter. Mungkinkah ini berarti ada mata air yang begitu besar di pinggir laut?

Air terjun setinggi 35 meter ini langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Hasilnya, sekitar 100 meter air laut di sekitar air terjun rasanya tawar. Percampuran ini menghasilkan terumbu karang yang unik dan indah.  Untuk menyaksikan keindahan air terjun itu, Anda menyewa kapal dari Pantai Kahona Tapteng, dengan harga sewa Rp1 juta-Rp1,5 juta. (dame ambarita)

Putri Runduk

Kisah tentang ‘Putri Runduk’ sangat dikenal oleh masyarakat di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara, mulai dari Barus sampai ke Natal, meski dengan versi masing-masing.

Dari sisi cerita, Putri Runduk tak kalah menarik dengan cerita lain yang ada di bagian lain tanah air kita. Ada cerita tentang Kejadian Danau Toba di Tanah Batak, Malin Kundang dari Minang, Sampuraga dari Mandailing, Putri Hijau dari Melayu Deli, Roro Jonggrang dari Jawa, Nyi Roro Kidul, dll.

Sebuah cerita rakyat biasanya dituturkan oleh para orang tua kepada anak dan cucu mereka. Demikianlah dari waktu ke waktu dari zaman ke zaman, cerita itu mengalir dan terwarisi oleh generasi berikutnya. Selain itu, cakupan wilayah kisah dan cerita yang sangat luas, menyangkut demografis wilayah lain, selayaknya menjadi pemikiran untuk dicari kesamaan versi dan alur ceritanya.

Siapakah sesungguhnya sosok Putri Runduk?

 Menurut cerita, Putri Runduk adalah permaisuri Raja Jayadana yang memerintah Kota Kerajaan Barus Raya, sebuah kerajaan Islam di wilayah Sumatera Utara abad ke-7 M.

Dengan parasnya yang sangat cantik, Putri Runduk dikagumi oleh Raja Mataram Sanjaya dan Raja Janggi dari Sudan/India. Karena sang putri menolak, ia pun melarikan diri ke Pulau Mursala yang sudah porak poranda akibat diserang dan dikuasai oleh Raja Sanjaya, yang kemudian direbut oleh Raha Janggi.

Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Putri Rungguk adalah Putri Raja Barus yang sangat Cantik yang dibuang ke salah satu pulau dekat kerajaan barus bersama hulu balangnya karena melanggar tradisi atau adat. Dan ada juga kisahnya sbb:   ketika kerajaan mongol mengirimkan utusannya kepada kerajaan-kerajaan  di jawa yaitu mojopahit,dengan membawa banyak pasukan agar kerajaan mojopahit bersedia tunduk kepada kerajaan mongol.Para utusan dan pasukan kerajaan mongol singgah dikerajaan barus yang merupakan kota niaga,lalu salah satu jendral mongol menyukai putri runduk yang merupakan putri kejaan barus,tetapi putri runduk tidak bersedia untuk dinikahi.sehingga putri runduk melarikan diri ke pulau mursala,mendengar keberadaan putri runduk yang telah melarikan diri dengan menaiki sampan(kapal kecil)pasukan mongol berserta jendralnya mencoba mengejarnya,tetapi sayang mereka kehilangan jejak putri runduk sehingga mereka(pasukan mongol) sampai ke pulau nias,sebagian dari mereka menetap dan mempunyai keturunan disana dan sebagian lagi pulang kemongol,sampai saat ini saya sangat meyakini cerita tersebut melihat suku dan ras nias sangat berbeda jauh dengan suku suku batak yg ada di SUMUT,raut wajah suku nias tidak berbeda jauh dengan raut wajah bangsa mongol.Keterangan ini dikuatkan dengan informasi pelaut yang sering melihat keberadaan dua orang wanita yangmana salah satunya memakai pakai merah dan sering memanggil kapal2 yang melintasi pulau mursala yang mereka yakini itu adalah PUTRI RUNDUK

Ditinjau dari sejarah, referensi tertulis mengenai Putri Runduk tidak banyak. Namun penulis mengutip tulisan HA Hamid Panggabean, Drs H Afif Lumbantobing dkk, dalam buku Bunga Rampai Tapian Nauli terbitan tahun 1995.

Dari halaman 211–213 disebutkan: Sekitar abad ke-7 di kota Kerajaan Barus Raya, memerintah seorang raja yang cukup ternama. Raja Jayadana (tidak disebutkan keturunan dari mana ataupun berasal dari negeri mana) namanya. Wilayah kerajaan ini membawahi daerah yang sudah memasuki era Islam, disebutkan Kota Guguk dan Koota Beriang, di dekat Kade Gadang (Barus) sekarang ini. Pada masa itu Barus telah menjadi bandar niaga rempah dan kapur Barus yang terkenal itu.

Layaknya seorang Raja, maka Raja Jayadana beristerikan (permaisuri, ratu) yang bernama Putri Runduk (tidak tertulis asal dari mana dan keturunan dari siapa).

“Kecantikan sang permaisuri sampai ke luar wilayah kerajaan. Dan Barus sebagai bandar niaga antar wilayah dan kerajaan, ikut menyebarluaskan perihal kecantikan luar biasa dari sang ratu, Putri Runduk!” tulis HA Hamid Panggabean, Drs H Afif Lumbantobing dkk, dalam bunga rampai mereka.

Disebutkan, beberapa raja di luar wilayah Barus, akhirnya berspekulasi merebut Putri Runduk dari kerajaan Jayadana. Tercatat Raja Janggi dari Sudan-Afrika, dan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram. Bahkan seorang Raja dari Cina datang melamar dengan baik-baik.

Selanjutnya ditulis, Raja Janggi dan Raja Sanjaya ingin menguasai Barus sebagai bandar perdagangan dunia pada masa itu, melalui peperangan sekaligus ingin memiliki sang ratu Putri Runduk.

Demikianlah, Raja Sanjaya berhasil menewaskan Raja Jayadana dan isterinya Putri Runduk ditawan, karena menolak lamaran Raja Sanjaya. Masalahnya Raja Sanjaya beragama Hindu, sedangkan sang putri beragama Islam.

Simaklah pantun berikut ini:

kota guguk kota bariang

ka tigo kota di muaro

ayam bakukuk ari siang

puti runduk ditawan jao

red.   

kota guguk kota beriang

ke tiga kota di muara

ayam berkokok hari siang

putri runduk ditawan jawa

Ternyata, inilah kesempatan yang dinanti oleh Raja Janggi. Mengetahui Putri Runduk telah ditawan oleh Raja Sanjaya, Raja Janggi dan pasukannya menyerang Raja Sanjaya. Pertempuran kembali terjadi di Barus, dan Kota Guguk pusat kerajaan Jayadana hancur porakporanda. Raja Janggi berhasil mempecundangi Raja Sanjaya.

Sekelompok pengawal setia dari sisa kerajaan Jayadana menyelamatkan ratu mereka Putri Runduk ke Pulau Morsala. Dalam pelarian inilah, disebutkan berceceran peralatan dan perbekalan yang dibawa oleh rombongan Putri Runduk, lalu terdampar di pulau-pulau kecil sekitar pulau Morsala. Dinamailah pulau-pulau itu sesuai barang yang terdampar di situ. Seperti, Pulau Situngkus, Pulau Lipek Kain, Pulau Tarika, Pulau Puteri, Pulau Janggi, dll.

Raja Janggi sampai juga di Pulau Morsala. Ketika hendak menangkap Putri Runduk, sang putri memukulkan tongkat akar bahar ke kepala Raja Janggi (tidak jelas ditulis, apakah Raja Janggi tewas atau ikut terjun ke laut mengejar Putri Runduk yang terlebih dulu terjun ke laut karena putus asa?).

Entah benar atau tidak, dari kejadian itu oleh masyarakat dikaitkan dengan pantun pesisir sebagai berkut:

pulo puti pulo panginang

ka tigo pulo anak janggi

lapik putih bantal bamiang

racun bamain dalam ati

Setelah peristiwa tragis itu, disebutkanlah seorang pembantu Putri Runduk, yang tugasnya mengurusi rumah tangga kerajaan, seorang pemuda anak nelayan miskin bernama ”Sikambang Bandahari.” Pemuda ini meratap dan menyesali diri, tak mampu membela dan menyelamatkan Putri Runduk. Ia juga meratapi majikan yang bunuh diri terjun ke laut, menyesali raja-raja zalim, dan kerajaan yang telah hancur.

Ratapan sedih Sikambang itulah.., yang akhirnya menjadi ”ratapan legendaris”, yang hari ini kita kenal sebagai lagu Sikambang..!

Masih versi sejarah kisah Putri Runduk, dari buku Sejarah Masuknya Islam ke Bandar Barus Sumatera Utara tulisan Dada Meuraxa (1973) dalam Sub Judul ”LEGENDA ABAD KE-7 TENTANG PUTRI RUNDUK DI PANTAI FANSUR ” (Hal.29) dan ”PUTRI RUNDUK RATU JAYADANA?” (Hal.31), disebutkan; Di pesisir Tapanuli Tengah di wilayah Barus tersebut terdapat satu cerita yang paling terkenal di sana yaitu Putri Runduk seorang ratu yang amat cantik. Rupanya putri itu sudah beragma Islam dan berkedudukan di Patupangan di tepi Bandar Fansur.

Oleh kecantikan sang ratu yang luar biasa itu, beberapa raja disebutkan ingin meminang ratu, antara lain; Pada tahun 732 M Raja Senjaya dari Jawa (Mataram?) , Raja Cina (tak jelas nama dan silsilahnya), juga Raja Janggi (disebut dari India, atau Sudan Afrika?).

Raja Cina berkumpul di Singkuang–Natal, Raja Janggi berkumpul di Lobu Tuo, Raja Senjaya berhasil menawan Putri Runduk.

Kisah dan cerita selanjutnya hampir seirama, kecuali tembahan informasi penolakan Putri Runduk atas pinangan Raja-Raja dari luar itu karena berbeda agama.

Baiknya kita ikuti salah satu legenda yang berkembang di masyarakat tentang legenda Putri Runduk:

Alkisah disuatu negeri yang berada dikawasan pesisir pantai barat yang dikenal dengan nama SIBOLGA KOTA BERBILANG KAUM, terdapat satu legenda yang dikenal dengan nama LEGENDA PUTRI RUNDUK dimana legenda tersebut dipercaya oleh penduduk Kota Sibolga sebagai satu legenda yang menceritakan tentang kecantikan seorang Putri yang berkuasa di Pulau MURSALA sebagai tahta kerajaannya. Kecantikan Putri Runduk ini sangat termasyhur sampai keseluruh pelosok Negeri bahkan sampai ke Manca Negara, sehingga banyak para Raja dan Pangeran ingin mensuntingnya. Selain itu legenda putri runduk ini juga dipercaya oleh orang pesisir Sibolga sebagai satu legenda yang merupakan cikal bakal lahirnya KESENIAN PESISIR SIBOLGA yang dikenal dengan nama KESENIAN SIKAMBANG, dimana kata Sikambang di ambil dari nama seorang dayang Putri Runduk yaitu dayang Sikambang yang di tinggalkan Putri Runduk ketika beliau melarikan diri dari kejaran Raja Janggi dengan berkata “ Tinggallah Engkau Dayang Kambang !!!”. maka oleh sebab itu orang pesisir sibolga ketika menyanyikan lagu Sikambang selalu di awali dengan jeritan “Maule……….. Kambang!!!!!!!!”

Putri Runduk adalah putri yang sangat cantik dimana kecantikannya terkenal keseluruh pelosok negeri bahkan sampai ke Benua Eropa, sehingga banyak para raja dan pangeran ingin menjadikannya sebagai permaisuri, tapi sayangnya Putri Runduk sudah mempunyai tautan hati yaitu seorang datuk dari negeri Sorkam yang bernama DATUK ITAM.

Hubungan Putri Runduk dengan Datuk Itam telah berjalan dengan baik tapi karena jarak yang cukup jauh yakni antara kepulauan Mursala dengan Sorkam, dan adat istiadat Negeri menjadikan hubungan mereka terlihat kurang harmonis, namun hati mereka berdua selalu terpaut, bak kata pepatah “ Jauh dimata, Dekat di Hati”. Hal inilah yang menyebabkan kedua sejoli tadi kurang saling berkomunikasi, sampai suatu ketika terjadilah petaka yang menimpa Putri Runduk dengan singgasana di Pulau Mursala, akibat datangnya seorang Raja dari Negeri jauh yang oleh penduduk Sibolga dipercaya sebagai Raja yang berasal dari Benua Eropa yang bernama Raja Janggi.

Suatu ketika di taman kerajaan di Pulau Mursala Putri Runduk terlihat melamun, hal itu diperhatikan oleh dayangnya sikambang. Putri Runduk duduk melamun dan termenung. “ Duhai Tuan Putri, ada apa gerangan? Mengapa wajah Tuan Putri bermuram durja tanya dayang Sikambang. “ pandanglah dayangku, dilangit awan hitam berarak, mentari tak menampakkan wajahnya, seakan-akan berbisik padaku akan ada terjadi sesuatu di negeri ini” jawab Putri Runduk. Kemudian dayang sikambang memandang kelangit dan melihat awan hitam yang mengelabuhi langit, sebenarnya dayang sikambang juga memiliki firasat yang buruk akan tetapi berusaha menghibur Putri Runduk dengan berkata “ Akh, jangan terlalu dirisaukan Tuan Putri, barangkali, itu hanya firasat saja, mungkin sebentar lagi hujan akan turun”. Putri Runduk terdiam sejenak masih dengan wajah yang tampak cemas lalu beliau berkata “ Tidak dayangku, hatiku selalu berbisik akan ada sesuatu yang terjadi di negeri ini”. Mendengar penjelasan putri runduk dayang sikambang berfikir untuk menghibur Tuan Putri agar tidak terlalu cemas dengan berkata kalau begitu bagaimana jika kami menghibur tuan Putri agar wajah tuan Putri tak lagi bersedih”. “baiklah dayang sikambang, engkau panggillah dayang – dayang yang lain kemari” jawab putri runduk. Dayang sikambang menghaturkan sembah dengan berkata “baiklah tuan Putri perintah akan segera hamba laksanakan”. Kemudian dayang sikambang berlalu dari hadapan Putri Runduk, dan tak berapa kemudian dayang sikambang beserta dayang lain itupun sampai ke taman dan mereka menghaturkan sembah dengan berkata “sembah kami tuan Putri, apa yang bisa kami lakukan untuk tuan Putri”. Putri Runduk menjawab “ dayang – dayangku, pukul gendang dengan jari ambil selendang mari menari”.

Dengan serta merta dayang – dayang itupun menarikan tari selendang, setelah selesai menari Putri Runduk pun bertepuk tangan sambil tersenyum menyaksikan kecantikan dayang – dayangnya ketika menari. Tatkala pertunjukan tari usai tiba-tiba datang seorang pengawal Putri Runduk dengan tergesa-gesa sambil menghaturkan sembah dengan berkata “ ampun Tuan Putri disana ada sesuatu yang tampak dari jauh”, Putri Runduk terkejut kemudian berkata “ ada apa pengawal !!!, apa yang kau lihat disana, katakan pengawal ada apa gerangan ? sehingga engkau tergesa-gesa”. Kemudian pengawalpun menjawab pertanyaan Tuan Putri dengan berkata “ ampun Tuan Putri di perairan kita ada sebuah kapal berhenti dan hamba tidak tahu, siapa, dari mana dan untuk apa mereka kemari”. Putri Runduk semakin gusar, hatinya semakin cemas dengan serta merta beliau berkata “ baiklah pengawal, segera engkau kesana !!! bawa pengawal lainnya dan tanyakan, siapa mereka, dari mana, dan untuk apa mereka kemari !!!”. selanjutnya pengawal menghaturkan sembah sembari berkata “ baiklah Tuan Putri perintah segera hamba laksanakan”. Setelah pengawal Putri Runduk berlalu, kemudian beliau mengajak dayang – dayangnya untuk meninggalkan taman kerajaan sembari berkata “ dayang sikambang dan dayang-dayang yang lain, marilah kita segera masuk ke istana firasatku berkata mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak baik”.

Ditempat lain sebuah kapal berhenti, kemudian turunlah seorang raja lengkap dengan pengawalnya, dengan langkah yang gagah memasuki pulau Mursala tempat bertahtanya Putri Runduk, kedatangan mereka langsung disambut dengan pertanyaan “ duhai Tuanku, siapakah tuanku? Dari mana Tuan berasal dan untuk apa Tuan kemari ?. pertanyaan pengawal tersebut langsung dijawab oleh Raja yang tak lain bernama Raja Janggi, sembari berkata “ Hai pengawal !!! aku adalah Raja Janggi dari Eropa, katakan pada Tuan Putri mu, aku ingin mensuntingnya dan menjadikannya permaisuri hiasan Negeriku” pengawal Putri terkejut mendengar ucapan sang Raja, kemudian pengawal itupun berkata “ maaf tuanku, berlayar kenegeri seberang, ikat kuda dengan temali, bila tuan ingin meminang, penuhi dulu adat negeri” Raja Janggi marah, dan dengan angkuhnya dia berkata “ akh,!!! Terlampau banyak adatmu, yang ku inginkan adalah Tuan Putrimu, sekarang juga sampaikan pada Tuan Putrimu untuk segera turun menghadapku!!!”. Melihat amarah Raja Janggi, pengawal Putri pun bersiap-siap untuk menghalangi Raja Janggi dan pengawalnya seraya berkata “ maaf Tuanku, Putri Runduk putri bestari, dipuja orang diseluruh Negeri, jika Tuan inginkan Putri kami, langkahi dulu mayat kami”. Mendengar ucapan pengawal Putri Runduk, Raja Janggi semakin marah kemudian beliau memerintahkan pengawalnya untuk menyerang pengawal Putri sembari berkata “ baiklah jika itu yang kalian inginkan, pengawal!!! Bereskan mereka agar mereka tahu siapa aku, Raja Janggi sang penguasa dari Eropa”. Dengan serta merta pengawal Raja Janggi menyerang pengawal Putri Runduk, dan terjadilah pertempuran diantara keduanya, hal tersebut menyebabkan pengawal dari keduanya berguguran jatuh ke Bumi.

Dilain tempat diatas singgasananya, sang Putri melihat kejadian itu dan menyadari petaka akan segera datang, kemudian beliau turun dari singgasananya menemui sang Raja seraya berkata “Duhai Tuanku yang gagah perkasa, siapakah Tuan? Dari manakah Tuan? dan apa tujuan tuan kemari? Dan untuk apa Tuan melakukan semua ini, sehingga Negeri ku ini beroleh petaka”.

Melihat Putri Runduk Raja Janggi tercengang, terpana seakan-akan tak menyangka akan bertemu dengan Putri yang cantik, kemudian Raja Janggi berkata “ha……haha……haha…… rupanya engkaukah Putri Runduk yang terkenal itu? Sungguh cantik rupamu, tak salah lagi banyak Raja dan Pangeran ingin merebutmu, sungguh aku ini orang yang beruntung dapat bertemu denganmu”.

Putri Runduk tak menghiraukan ucapan Raja Janggi seraya berkata “Maaf Tuanku katakan saja siapa Tuan, dari mana asal Tuan dan untuk apa Tuan kemari!!!!”.

Mendengar pertanyaan Tuan Putri Raja Janggi semakin cepat ingin memberitahukan niatnya, kemudian dengan sombongnya Raja Janggi berkata “Aku adalah Raja Janggi dari Negeri Eropa, datang kemari untuk mempersunting Tuan Putri”.

Mendengar ucapan Raja Janggi Tuan Putri tertegun, beliau berfikir sejenak untuk mencari akal guna menghindari maksud dan tujuan Raja Janggi karena Putri Runduk Tidak bersedia menjadi permaisuri Raja Janggi seraya berkata “Baiklah Tuanku, jika itu keinginan Tuan, aku punya satu syarat, jika syarat itu telah tuan penuhi, aku bersedia menjadi permaisuri”.

Dengan serta merta Raja Janggi menyambut keinginan Putri Runduk dengan berkata “Katakan segera, apa syaratnya”. Putri Runduk mengajukan satu syarat seraya berkata. “Tariklah Negeriku ini, sampai kedekat Sorkam, dalam waktu satu malam, bila Tuan berhasil merapatkan Negeriku ke Sorkam, maka aku bersedia menjadi permaisuri Tuan”.

Mendengar syarat yang diajukan Putri Runduk, Raja Janggi menyanggupinya karena beliau merasa yakin bisa memenuhi syarat tersebut, sambil tertawa Raja Janggi berkata “Hahaha…….hahaha….. hahahaha….. alangkah mudah syaratmu itu Putri Runduk, jangankan satu malam sebelum Fajar menyingsing, Negerimu ini akan rapat dengan Sorkam”.

Putri Runduk berkata “Baiklah Tuan laksanakanlah!!!, jika Tuan tak berhasil maka segeralah meninggalkan Negeriku. Seraya berucap “Naik kuda pasang pelana, Tarik kemudi ke Sibolga, jika Tuan sudah kalah, mohon tinggalkan Negeri hamba”.

Mendengar ucapan Putri Runduk, Raja Janggi semakin ingin membuktikan ucapannya, maka dengan sombongnya Raja Janggi berkata “Baiklah Tuan Putri yang cantik aku akan buktikan kata-kataku”.

Setelah itu Raja Janggi melaksanakan ucapannya, dengan menghimpun segenap tenaga dan kekuatan yang dia miliki, Raja Janggi berusaha menarik Pulau Mursala agar mendekati Sorkam, tak berapa lama kemudian Putri Runduk merasakan Pulau Mursala bergetar, bergeser, seolah-olah bergerak menuju arahnya, dengan serta merta Putri Runduk merasa takut jika Raja Janggi benar-benar sanggup memenuhi syaratnya, diam-diam Putri Runduk masuk kedalam istananya dan berkata kepada dayang-dayangnya “Wahai dayang-dayangku, nampaknya Raja Janggi sanggup memenuhi syaratku, sementara aku tak suka padanya, bagaimana cara kita untuk menghalanginya?”

Melihat kecemasan Tuan Putri dayang-dayangpun berfikir sembari memberikan pendapat kepada Tuan Putri seraya berkata “Ampun Tuan Putri, bagaimana jika kita tokok lesung dengan alu, agar ayam berkokok seolah-olah hari telah pagi”.

Mendengar nasehat dayangnya dengan serta merta Putri Runduk menyetujuinya seraya berkata “Laksanakanlah wahai dayangku, sebagai wujud baktimu padaku”. Kemudian dayang itupun mengambil lesung dan alu dan memukulnya berkali-kali sehingga ayam-ayam terbangun dan berkokok dengan nyaringnya mengira hari telah pagi.

Dengan tiba-tiba Putri Runduk mendekati Raja Janggi dan berkata “Duhai Tuan Raja Janggi yang gagah dan perkasa, ternyata Tuan tak bisa memenuhi syaratku, karena Negeriku ini belum rapat dengan Sorkam sedangkan hari sudah menjelang pagi”.

Mendengar ucapan Putri Runduk, Raja Janggi tertegun dan merasa tak percaya, kemudian beliau melakukan penyelidikan dan merasa adanya keganjilan, dengan marahnya Raja Janggi berkata “Akh, Bagaimana mungkin hari masih gelap, menurut perkiraanku, hari masih separuh malam”.

Putri Runduk berusaha meyakinkan Raja Janggi seraya berkata “Mengapa Tuan tak percaya,? Dengarkanlah suara kokok ayam yang bersahut-sahutan, pertanda pagi akan menjelang”.

Raja Janggi kembali tertegun dan berusaha mendengarkan suara itu dengan sebaik-baiknya, tetapi Raja Janggi tetap saja menemui sesuatu keganjilan maka dengan marahnya Raja Janggi berkata kepada Tuan Putri “Engkau curang Putri Runduk!!! Hari belum pagi, tapi engkau sengaja membangunkan ayam-ayam itu, agar berkokok seolah-olah hari sudah pagi”.

Putri Runduk merasa terkejut dan menyadari keadaannya seraya berkata “Tuan Raja Janggi, aku tak sudi padamu jika Tuan ingin menyuntingku taklukkanlah dulu diriku”. Putri Runduk bersiap-siap untuk melakukan perlawanan.

Melihat hal itu Raja Janggi semakin marah, kemudian Raja Janggi berkata “Baiklah jika itu kemauanmu”.

Raja Janggi menyerang Putri Runduk, maka terjadilah pertempuran yang hebat diantara keduanya, setelah beberapa lama bertempur, Putri Runduk merasa tak mampu mengalahkan Raja Janggi, dengan tiba-tiba Putri Runduk mengibaskan selendangnya kearah Raja Janggi, sehingga Raja Janggi sempoyongan, dan kesempatan itu digunakan Putri Runduk untuk melarikan diri sembari membawa semua perbekalannya yang terdiri: Setrika, Bakul, Nasi Sebungkus, Sendok, Selendang Panjang, Talam, dan Sebongkah Karang seraya berkata kepada dayangnya sikambang “Tinggallah engkau dayang kambang !!! aku akan pergi jauh dan jagalah Negeriku”.

Melihat hal tersebut, dayang sikambang terpana dengan serta merta mereka menjerit dan menangis seraya berkata “ Tuan Putri………., Tuan Putri…….., jangan tinggalkan kami”

Putri Runduk tak menghiraukan panggilan dayangnya, beliau terus berlari, dan sementara itu Raja Janggi sadar dari sempoyongannya dan langsung melakukan pengejaran sehingga terjadilah kejar-kejaran antara Putri Runduk dan Raja Janggi. Lama kelamaan Putri Runduk semakin lelah dan hampir tak sanggup lagi berlari sehingga terjatuhlah perbekalannya satu persatu ke bumi yaitu disaat jatuh Setrikanmya menurut legenda terjadilah Pulau Tarika, lalu jatuhlah Bakulnya maka jadilah Pulau Baka, kemudian jatuh kembali Nasinya yang sebungkus jadilah Pulau Situngkus, jatuh sendoknya jadilah Pulau Sendok, jatuh kembali Selendang Panjangnya maka jadilah Pulau Panjang, kemudian jatuh pula Talamnya, jadilah Pulau Talam, dan akhirnya jatuhlah sebuah karang yang beliau bawa maka jadilah Pulau Karang.

Setelah semua perbekalannya berjatuhan, Raja Janggi semakin dekat mengejarnya hampir saja Putri Runduk dapat ditangkap Raja Janggi dan Putri Runduk merasa tak mampu lagi untuk berlari dengan serta merta Putri Runduk menceburkan dirinya kedalam laut, tempat Putri Runduk menceburkan dirinya ke Laut dikenal dengan nama Pulau Putri, ketika Putri Runduk berlari menghindari kejaran Raja Janggi beliau selalu di ikuti oleh seekor Burung kesayangannya, disaat Putri Runduk menceburkan dirinya kedalam laut, burung tersebut terbang jauh seolah-olah merasa takut dengan tindakan yang dilakukan putri runduk, burung tersebut terus terbang diangkasa sambil berciut dengan keras dan sampai pada suatu tempat burung tersebut berhenti dan atas kehendak Tuhan burung tersebut menjelma menjadi sebuah Pulau yang dikenal oleh masyarakat Sibolga yaitu Pulau Ungge.

Melihat kenyataan itu Raja Janggi terkejut, beliau berhenti dan menatap ke dalam laut dan tanpa disangka, atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa Raja Janggi berubah menjadi batu yang berbentuk manusia yang berdiri membungkuk seolah-olah menatap ke dalam laut.

Di lain tempat, tepatnya di Sorkam wilayahnya Datuk Itam, tampak Datuk Itam sedang duduk di singgasananya dikelilingi oleh hulubalang dan dayangnya. Datuk Itam adalah seorang Datuk yang berasal dari Bengkulu, belayar mengharungi lautan sehingga beliau sampai di suatu Pulau yang dikenal dengan nama Pulau Poncan, disana Datuk Itam tinggal dan menetap untuk membuka perkampungan, beberapa lama kemudian, karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung untuk kehidupan yang lebih baik, Datuk Itam berpindah ke suatu Negeri yang dikenal dengan Negeri Sorkam. Disana beliau menjadi Datuk dan ketika sedang duduk dikelilingi dayang dan hulubalangnya dengan tiba-tiba datang seorang hulubalang menghadap dengan berkata

“Ampun Tuanku, hamba mendengar berita, di Pulau Mursala tempatnya Tuan Putri Runduk bertahta telah terjadi sebuah petaka”.

Mendengar laporan hulubalangnya Datuk Itam Terkejut sembari berkata “Petaka? Petaka apa maksudmu hulubalang!!!”

Dengan hati-hati hulubalang menjelaskan berita yang beliau dengar sembari berkata “Menurut berita itu tuanku Putri Runduk, telah menceburkan dirinya kedalam laut, karena tak kuasa menghadapi seorang Raja yang ingin menyuntingnya secara paksa”.

Datuk Itam tercengang, hatinya merasa cemas sembari berkata “Raja? Siapakah gerangan Raja yang engkau maksudkan itu hulubalang, dan dari mana asalnya?”

Hulubalang kembali menjawab pertanyaan sang Rajanya dengan berkata “Daulat Tuanku menurut berita Raja itu bernama Janggi berasal dari Negeri Eropa”.

Dengan kesal Datuk Itam mengepalkan tangannya dengan berkata “Alangkah Biadabnya Raja itu, dan sekarang dimana Raja itu?”.

Hulubalang kembali menjelaskan semuanya dengan seksama sembari berkata “Daulat Tuanku, menurut berita Raja tersebut telah berubah menjadi Batu”.

Mendengar semua penjelasan hulubalangnya, Datuk Itam semakin sedih dengan perasan yang galau beliau berkata “Ah, alangkah malang nasibmu Putri Runduk, mengapa dikau tak memberi kabar padaku, sembari bertitah “Baiklah hulubalangku kabarkan keseluruh Negeriku, Datuk Itam Raja Sorkam beserta seluruh rakyatnya menyatakan Belasungkawa atas petaka yang menimpa Putri Runduk wanita yang menjadi pujaanku”.

Dengan serta merta seluruh Rakyat Negeri Sorkam melaksanakan keinginan Rajanya sebagai tanda turut belasungkawa. Kisah Putri Runduk yang merupakan legenda Kota Sibolga, dikenang dengan membuat nama jalan yang ada di Kota Sibolga yaitu Jalan Putri Runduk, Jalan Janggi dan Jalan Datuk Itam yang posisinya saling berdekatan.

Dari cerita legenda Putri Runduk ini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak baik bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain meskipun kita memiliki kekuatan, selain itu cerita Putri Runduk ini mencerminkan kegigihan seorang Putri untuk mempertahankan diri dan wilayahnya dari ancaman, juga mencerminkan kesetiaan dalam membina hubungan, meskipun mengorbankan dirinya serta segala sesuatu yang dilakukan dengan itikad tidak baik, akan beroleh balasan Dari Tuhan Yang Maha Esa.

Leave a comment