Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah Setahun

Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah Setahun
dan Tujuh Puluh Tahun.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
Sahabat yang dirahmati Allah,

Suatu hari seorang sahabat Nabi SAW, Miqdad Ibnu Al-Aswad berjumpa dengan Abu Hurairah r. a, lalu beliau mengkhabarkan kepada Miqdad: “ Aku mendengar Rasulullah memberitahu kepadaku, sesiapa yang berfikir satu saat maka itu terlebih baik daripada beribadat setahun”
Miqdad berlalu dan berjumpa pula dengan Ibnu Abbas, lalu dikhabarkan kepada Miqdad “ Aku mendengar bahwa Rasulullah SAW memberitahu kepadaku, barang siapa yang berfikir satu saat maka ia terlebih baik daripada beribadat tujuh puluh tahun.”
Miqdad keliru dengan perkhabaran dua sahabat tadi, Karena apa yang disampaikan oleh kedua-duanya berbeda. Lantas beliau mengadukan hal ini kepada baginda Nabi SAW. Baginda mengarahkan supaya memanggil Abu Hurairah dan Ibnu Abbas berjumpa dengannya, baginda bertanya kepada Abu Hurairah: “ Bagaimana cara engkau berfikir?” Jawab Abu Hurairah: “ Aku memikirkan tentang tujuh petala langit dan bumi (mendatangkan rasa keAgungan kepada Allah dalam diri)”.
Maka jawab baginda: “ Benar, engkau mendapat berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun.” Sabdanya lagi, “ Telah turun al-Quran kepadaku, rugilah bagi mereka yang membaca al-Quran tapi tidak memikirkannya.”
Lalu baginda bertanya pula kepadan Ibnu Abbas tentng apa yang difikirkannya. Jawab Ibnu Abbas: “ Aku memikirkan tentang kematian dan huru-haranya saat itu.” Lalu baginda menjawab: “Benar, berfikir begitu maka engkau mendapat kelebihan sesaat berfikir maka terlebih baik daripada beribadat 70 tahun.”
Berdasarkan sirah dan hadis-hadis di atas dapatlah di simpulkan bahwa memikirkan sesat adalah mempunyai dua kebaikan iaitu :
Pertama :Memikirkan penciptaan tujuh petala langit dan bumi oleh Allah SWT akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama setahun.
Kedua : Memikirkan tentang kematain dan siksa kubur dan kehidupan di alam barzakh akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama 70 tahun.
Uraiannya :
 
Pertama :Memikirkan sesaat penciptaan tujuh petala langit dan bumi oleh Allah SWT akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama setahun.
Firman Allah SWT maksudnya : ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali ‘Imran: 190-191).
Suatu malam Rasulullah SAW meminta izin kepada isterinya, Aisyah, untuk solat malam. Dalam solatnya, baginda menangis. Air matanya mengalir deras. Baginda terus beribadah hingga sahabat Bilal mengumandangkan azan Subuh. Baginda masih menangis saat Bilal datang menemuinya. ”Mengapa tuan menangis?” tanya Bilal. ”Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa tuan baik yang lalu maupun yang akan datang?” 
Nabi SAW menjawab, ”Bagaimana aku tidak menangis, telah diturunkan kepadaku malam tadi ayat ini, ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali ‘Imran: 190-191).
Selanjutnya Rasullullah bersabda : “Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya”
Alam semesta, menunjuk kepada dua ayat di atas, adalah ayat, iaitu tanda kekuasaan Allah SWT. Sebagai ayat, alam semesta ini harus dibaca dan dipelajari hingga menimbulkan iman dan kekaguman (khasyyah) yang makin besar kepada al-Khaliq. Nabi pernah memberikan arahan agar manusia tidak memikirkan Zat Allah, tetapi cukup merenungkan alam ciptaan-Nya. Kata baginda, ”Fikirkanlah ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Zat Allah.”
Jadi, ayat-ayat Allah itu ada dua maksud. Pertama, ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah). Kedua, ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah). Menurut ahli falsafah muslim, Ibn Rusyd, alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah yang pertama. Dikatakan demikian, karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat, Injil, dan al-Quran, Allah telah menciptakan alam semesta ini. Karena alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal alam juga ayat.
Sebagai ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Karena itu, penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagaimana ayat, alam ini juga mengandung hukum-hukum Allah yang dalam istilah al-Quran dinamakan takdir dan sunatullah. 
Kedua :Memikirkan tentang kematian dan siksa kubur dan kehidupan di alam barzakh akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama 70 tahun.
Siapa pun tidak dapat menduga bilakah saat kematian mereka akan tiba. Sebab itu ramai yang masih lalai dan tidak ada persiapan ‘menanti’ saat kematian mereka.
Allah berfirman yang artinya: “Setiap yang hidup akan merasakan mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cobaan; dan kepada Kamilah kamu akan kembali.”
(Surah al-Anbiya’ ayat 35) 
Memikirkan kematian adalah satu cara untuk membersihkan hati yang berkarat yang cinta kepada dunia.
Daripada Ibnu Umar r.a berkat, Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat seperti besi yang dikaratkan oleh air. Apakah cara untuk menjadikan hati bersinar semula. Katanya dengan banyak mengingati mati dan membaca Al-Quran.” (Hadis Riwayat Baihaqi)
Saidina Uthman bin Affan pernah mengiringi jenazah ke kubur. Tiba-tiba apabila sampai ke kubur, dia pingsan dan diusung kembali ke rumah pula. Lalu, sahabatnya bertanya apakah yang menyebabkan beliau pingsan. Jawab Utsman, aku teringat yang Rasulullah SAW pernah bersabda “Sesungguhnya kubur itu adalah penginapan yang pertama antara penginapan akhirat, sekiranya seseorang itu terlepas dari siksaannya maka apa yang akan datang kemudiannya adalah lebih mudah lagi. Seandainya seseorang itu tidak terlepas daripada siksaannya, maka yang akan mendatang adalah lebih sukar”.
Terdapat lagi satu hadis riwayat At Tirmizi yang berbunyi, Rasulullah ada bersabda maksudnya : “Kubur itu sebagaimana satu taman daripada taman-taman syurga atau satu lubang daripada lubang-lubang neraka. (Hadis Riwayat At Tirmizi).”
Saudara-saudara yang dikasihi,
Oleh karena itu marilah kita sama-sama senantiasa memikirkan kekuasaan Allah SWT menciptakan tujuh petala langit dan bumi tanda hamba yang bersyukur dan ridha dengan ketentuan takdir Ilahi. Begitu juga kita perlu senantiasa memikirkan bahwa siksa kubur itu benar dan senantiasa membuat persiapan-persiapan dimuka bumi ini supaya terselamat daripada siksaan di Alam Barzakh (ALam Kubur). 
Terdapat tujuh persiapannya adalah
1. Setiap hari bertaubat dan beristighfar,
2. Betulkan solat dan coba berusaha mendapatkan khusyuk
3. Selesaikan semua hutang-piutang
4. Banyakan bersedekah jariah
5. Menyampaikan ilmu yang bermanfaat
6. Mendidik anak-anak supaya mereka menjadi anak-anak yang soleh dan anak-anak yang soleh ini akan mendoakannya pula
7. Meminta maaf orang yang kita telah melakukan kesalahan atau kita mengumpat dan memfitnah .

Leave a comment