Artikel Pendidikan: Reformasi Dunia Pendidikan

Artikel Pendidikan: Reformasi Dunia Pendidikan 

Artikel Pendidikan: Reformasi Dunia Pendidikan 

Momen Hardiknas

Waktunya Melakukan Reformasi Pendidikan

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia harusnya dijadikan sebagai waktu untuk melakukan perbaikan di befrbagai bidang pendidikan. Sudah waktunya kualitas guru harus meningkat dan sarana pendidikan harus dibangun demi mendapatkan hasil yang maksimal dan pelajar yang berprestasi tidak hanya tingkat Riau namun juga di nasional.

Kepala Sekolah SMA Plus Basri mengaku, sudah waktunya pelajar menjadi learning (belajar) sendiri sedangkan guru hanya menjadi fasilisator saja. Hal inilah yang diterapkannya di SMA Plus sehingga tahun ini untuk ujian nasional SMA sederajt SMA Plus juara pertama dan untuk nasional Riau menduduki peringkat ketiga. Sebuah prestasi yang tidak didapat begitu saja, kecuali dengan usaha dan dukungan dari Pemprov Riau melalui Dinas Pendidikan Riau,” kata Basri.

Karena prestasi Riau itulah dirinya berangkat ke Istana Negara untuk mendapatkan ucapan selamat sekaligus sharing pendidikan. Basri juga menceritakan, untuk mencapai prestasi itu para pelajar SMA Plus digembleng dengan banyak hal dan tidak heran bila pelajar SMA Plus ini sangat melek teknologi, karena memang mereka terbiasa menggunakan teknologi terbaru seperti internet dan lain-lainnya.

Menurut Basri, sebenarnya menggembleng anak-anak itu bukan soal otaknya saja, tetapi bagaimana mengasah jiwa organisasi, kepemimpinan dan kemandirian mereka. Bisa jadi anak itu biasa-biasa saja hari, namun karena befrorganisasi dia bisa menjabat di pemerintahan dan semua itu bisa terjadi dan terbukti terjadi.

Karakter Bangsa
Sedangkan Pengamat Pendidikan Soemardi Thaher menilai, karakter bangsa itu yang harus dibentuk dari mulai guru tentunya yang pertama. Dimana guru dinilainya harus memiliki dedikasi yang tinggi sebagai guru, disiplin, mampu menimba ilmu terus-menerus sehingga ilmunya selalu baru dan bisa ditransfer kepada para siswanya. Sehingga guru itu pantas menjadi guru dan pantas dicontoh oleh para murid-muridnya.

Langkah ini bisa mulai dilakukan ketika calon guru sedang menimba ilmu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Di sinilah sebenarnya pembentukan karaktger bangsa atau guru itu harus dimulai sehingga begitu menjadi guru dia siap menjadi contoh. Kebanyakan dia menilai FKIP masih melahirkan guru apa adanya.

Menurut Soemardi, membina guru jangan cuma melalui seminar atau penataran sesaat saja. Guru harus terus mengembangkan ilmunya dengan mempelajari teknologi terbaru, meski dia sadar bahwa gaji guru masih belum optimal diberi.

Empat Hal
Menurut Pengamat Pendidikan Riau Profesor Adrianto ada empat hal yang harus dilakukan untuk menggesa pendidikan di Riau agar lebih maju ke depan. Yaitu, perhatikan nasib guru dari mulai hulu-hilir. Juga diperhatikan bagaimana cara perekrutan guru itu sendiri. Karena bila perekrutan kualitasnya bagus maka hasilnya juga akan bagus. Kedua, anak didik. Anak yang cerdas bila diasah sedikit pasti akan cerdas. Namun yang perlu dan urgen itu adalah bagaimanamembuat anak yang tadinya biasa-biasa saja menajadi anak yang luar biasa dengan sejuta prestasi. Ketiga, pemerintah. Pemerintah melalui Disdik tentunyha harus aktif membina guru dengan selalu meningkatkan kualitas pengetahuannya sehingga dia selalu haus ilmu pengetahuan dan merasa kurang sehingga dia terus belajar.

Seiring Hardiknas, ketiganya berharap, ada perbaikan bidang pendidikan di Riau sehingga ke depan pendidikan di Riau semakin bagus dan bisa mengukir prestasi lebih baik lagi ke depan. Erma Sri Melyati

Leave a comment